Latar Belakang Perang Georgia – Rusia

Georgia: Pesan AS, Rusia
Jump to Comments

Sekitar 1000 tentara AS berlatih bersama sekitar 600 tentara Georgia di pangkalan Vaziani, tidak jauh dari ibukota Georgia, Tbilisi. Armenia, Azerbaijan, dan Ukraina turut mengirim delegasi dalam jumlah kecil. Latihan bersama yang diberi kode Immediate Response 2008 tersebut dimulai tanggal 17 Juli 2008 dan berlangsung selama 3 minggu. Biaya kegiatan sebesar US$ 8 juta ditanggung oleh Departemen Pertahanan AS.

Pada saat yang hampir bersamaan, di seberang garis perbatasan Georgia di wilayah Rusia, sekitar 8000 tentara Rusia yang didukung oleh 700 kendaraan tempur dan 30 helikopter menggelar latihan ‘anti-terorisme’ Caucasus 2008.

Beberapa hal menarik untuk dicatat dari fenomena di atas. Pertama, Georgia dan Rusia adalah dua negara bertetangga namun memiliki hubungan yang kurang harmonis. Sejak Revolusi Mawar tahun 2003 yang menurunkan Eduard Shevardnadze–Menteri Luar Negeri era Uni Soviet–dan mendudukkan Mikheil Shaakhasvilli di kursi kepresidenan, Georgia berpaling muka dari Rusia ke Barat (Eropa dan AS). Hal yang membuat Rusia berang. Rusia berkepentingan memiliki negara-negara tetangga di sekelilingnya yang bersahabat dan menyesuaikan kebijakannya, ketimbang mempengaruhi, kebijakan yang dibuat Rusia.

Mengapa? Inti kepentingan Rusia terletak pada masalah keamanan nasionalnya. Rusia adalah sebuah negara besar, memiliki wilayah dan penduduk yang sangat besar, namun tidak memiliki perbatasan alam yang dapat mengamankannya dari serangan musuh yang datang dari luar. Kondisi ini membentuk mentalitas bangsa Rusia menjadi bangsa yang ekspansif. Selalu mengembangkan diri, menduduki daerah-daerah baru di sekelilingnya untuk dijadikan buffer zone.

Bandingkan dengan AS yang negaranya ‘dilindungi’ oleh alam berupa lautan luas dan negara-negara tetangga yang kemampuan militernya jauh di bawahnya.

Di mata Rusia, Georgia yang bersekutu dengan Barat merupakan potensi ancaman terhadap keamanan nasional Rusia. Potensi ancaman itu berada tepat di depan pintu.

Kedua, Georgia memiliki dua propinsi yang ingin melepaskan diri dan menjadi negara merdeka: Abkhazia dan Ossetia Selatan (OS). Upaya keduanya memerdekakan diri tidak berhasil mendapatkan pengakuan internasional. Namun mereka mendapat dukungan dari Rusia—meski bukan dalam bentuk pengakuan kemerdekaan.

Peran Rusia dalam masalah Abkhazia dan OS resminya adalah sebagai pihak yang membantu mencari penyelesaian damai. Rusia bertindak sebagai perantara atau penghubung antara pihak Abkhazia dan OS dengan pemerintah Georgia. Namun dalam kenyataannya, tidak jarang pemerintah Rusia secara terang-benderang membantu pihak yang ingin melepaskan diri ini. Contohnya, pemerintah Rusia memberikan kewarganegaraan dan passport Rusia kepada warga Abkhazia. Alasannya, agar mereka dapat melakukan perjalanan ke luar wilayah Abkhazia. Hal ini dikarenakan pemerintah Georgia menolak memberikan passport kepada warga Abkhazia itu.

Contoh lain, pesawat-pesawat tempur Rusia beberapa kali melakukan penerbangan di atas daerah-daerah konflik tersebut. Hal itu merupakan pelanggaran atas kedaulatan wilayah udara Georgia.

Dengan latar belakang tersebut, muncul spekulasi bahwa Immediate Response 2008 merupakan bagian dari keinginan Georgia menyelesaikan masalah dalam negerinya dengan menggandeng AS. Tujuannya tidak lain agar Rusia tidak berani ikut campur. Di mata Georgia, Rusia menjadi bagian dari persoalan, bukan bagian dari solusi.

Ketiga, Rusia di bawah Presiden Vladimir Putin berhasil bangkit menjadi kekuatan global di bidang ekonomi dan militer. Keuntungannya yang melimpah dari minyak, dimanfaatkan untuk memperkuat militernya. Rusia kembali memiliki kepercayaan diri yang cukup untuk mengatakan ‘jangan main-main denganku ’, terutama di saat kepentingan strategisnya terganggu.

Pengganti Putin, Dmitri Medvedev (baru berusia 42 tahun saat dilantik sebagai Presiden Federasi Rusia—lahir 14 September 1965!) mengunjungi Azerbaijan, Turkmenistan, dan Kazakhstan sebelum menghadiri KTT G-8 tanggal 7-9 Juli 2008 di Hokkaido, Jepang. Tujuan turnya ke Asia Tengah adalah untuk memperkuat kerjasama energy. Azerbaijan, Turkmenistan dan Kazakhstan merupakan negara-negara penghasil minyak dan gas yang berada di ‘halaman rumah’ Rusia di pinggir Laut Kaspia.

Apa signifikansi kunjungan tersebut? Kawasan L. Kaspia menyimpan sumber energy yang sangat besar. Konon kawasan ini merupakan penyimpan kandungan minyak dan gas paling penting setelah Timur Tengah. Kunjungan Medvedev tersebut merupakan pesan dari Rusia kepada para pemimpin G-8 lain bahwa Rusia memiliki kontrol atas kawasan strategis tersebut. Rusia memiliki kerjasama dengan negara-negara di kawasan tersebut yang jauh lebih maju dibanding yang dimiliki oleh negara-negara G-8 lain.

Kegiatan Rusia memperkuat kembali pengaruhnya di negara-negara bekas Uni Soviet ini tak mendapat imbangan dari AS. Kenapa? Karena AS disibukkan dengan persoalannya di Irak dan Afghanistan. AS tidak memiliki kemampuan untuk dalam waktu bersamaan melakukan aksi yang berarti untuk mengimbangi penguatan Rusia di repubik-republik Asia Tengah di tepi L. Kaspia ini.

Itulah pesan yang diberikan Rusia melalui Caucasus 2008. Bahwa saat ini Rusia telah lebih kuat dan siap untuk menjadi ‘tuan’ di ‘halaman rumahnya’ sendiri. Persoalan-persoalan yang terjadi di kawasan ini penyelesaiannya harus secara, atau setidaknya melibatkan, Rusia. Sekali lagi, ini adalah perwujudan dari mentalitas mencari buffer zone.

Sementara itu, saat ini AS sedang menumpahkan sumber-sumber yang dimilikinya untuk memenangkan perang di Irak dan Afghanistan. Kemampuan militer AS menipis. Di samping itu, kenyataannya AS berada jauh untuk datang membantu Georgia. Sedangkan Rusia berada tepat di sebelah garis perbatasan. Rusia akan membutuhkan waktu jauh lebih singkat untuk menyiapkan militernya menghadapi Georgia. Bantuan militer AS akan datang sangat terlambat dan tidak ada guna.

Skala latihan militer yang jauh lebih besar dalam Caucasus 2008 dibanding Immediate Response 2008 menunjukkan keseriusan Rusia menyampaikan pesan ini. Rusia tidak ingin pesannya meleset diartikan. Rusia tidak ingin lagi dipermalukan, dianggap enteng oleh rivalnya dalam era Perang Dingin.

Melalui Immediate Response 2008 dan Caucasus 2008 pesan sudah disampaikan kepada pihak-pihak yang diinginkan. Pertanyaannya, apakah pesan itu mendapatkan perhatian? Bagaimana menurut Anda?

Foto: Reuters (www.daylife.com)

About these ads

There are no comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: